PENTINGNYA TOLERANSI
TERHADAP SESAMA
Oleh: Rido Fauzi, Lc
*****
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ
اللهِ.. – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ
– يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً
أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ
الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ
اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Jamaah Rahimakumullah:
Puji syukur kepada sang khalik pada hari ini dialah yang memberikan kita nafas
dan rezeki di atas bumi ini, Penglihatan Nya bisa menembus langit dan bumi.
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي
سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚيَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي
الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ
فِيهَا ۖوَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ
بَصِيرٌ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia
bersemayam di atas ´arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang
keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya.
Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.” [Al Hadiid 4]
Dia bisa melihat semut hitam yang berjalan di atas
batu hitam di langit yang kelam.
Tak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi tanpa
Allah melihatnya. Tidak pula daun kering atau basah kecuali Allah melihatnya.
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ
الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ
الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan
di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya
(pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak
sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata
(Lauh Mahfudz)” [Al An’aam 59]
Salawat dan Salam kepada Nabi Muhammad
SAW junjungan Alam sang pemberi kabar gembira kepada ummatnya, penerang di
dalam kegelapan.
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum
di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam
masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para
shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan
ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang
mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang
tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada
air kencing tersebut.
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:
قام أعرابي فبال في المسجد فتناوله الناس فقال لهم
النبي صلى الله عليه وسلم دعوه وهريقوا على بوله سجلا من ماء
Dari Anas bin Malik r.a, beliau berkata, "Seorang
Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi
masjid. Lalu para sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk
mencegahnya, namun Rasulullah saw dengan penuh bijaksana bersabda, ”Jangan
kalian putuskan kencingnya!”. Maka tatkala orang tersebut selesai dari
kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing tersebut disiram
dengan seember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya,
“Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun
ia dipersiapkan untuk shalat, membaca al Qur’an dan dzikrullah.”
(Hadits Riwayat al Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hambal, orang Badui itu berkata: "Ya Allah
sayangilah saya dan Muhammad, dan janganlah engkau sayangi seorangpun".
Jamaah
Rahimakumullah:
Ada 3 Pelajaran Penting yang bisa diambil:
1.Toleransi Nabi, Nabi SAW melarang sahahabat untuk meneriaki Arab Badui
tersebut sehingga selesai kencingnya, membiarkannya meneruskan untuk
meminimalisir mafsadah.
Jika Arab Badui ini di paksa untuk menghentikannya maka ia akan berdiri
dalam keadaan aurat terbuka air kencing akan meluas mengenai lantai dan pakaian.
Di samping itu ia akan dilihat oleh orang banyak dalam keadaan auratnya
terbuka. Maka pada saat itu akan terjadi dua mafsadah (keburukan) baru yaitu
melebarnya air kencing dan terbukanya aurat di hadapan orang.
Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa suatu kemungkaran hendaknya
dibiarkan saja, jika mencegahnya ternyata akan menimbulkan kemungkaran baru
yang lebih besar.
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim
untuk berhias dengan sifat Ar-Rifq. Ar Rifq dalam arian toleransi terhadap
orang lain sifat lemah lembut di dalam berkata dan bertindak serta memilih
untuk melakukan cara yang paling mudah. karena ia merupakan bagian dari
sifat-sifat yang dicintai oleh Allah SWT.
Dengannya pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan
dan keutamaan.
Rasulullah SAW mengatakan hal ini
kepada ‘Aisyah-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang
Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Al
Bukhari dan Muslim
2. Membersihkan Najis, Nabi saw memerintahkan para sahahabatnya untuk menyiram tempat yang
terkena kencing tersebut dengan seember air. Nabi saw menjelaskan tentang
keagungan Masjid kepada si orang Badui, bahwa masjid itu tempat shalat, membaca
Al-quran, berdzikir kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
“Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya".
Ini menunjukan akan keagungan masjid, oleh karena itu hendaknya kita
mengagungkan masjid, membersihkannya, mensucikannya, serta hendaknya kita
menggunakannya dengan sesuatu yang diridhai Allah swt seperti shalat, dzikir,
membaca Alquran dan lain sebagainya.
3. Mengajak Tanpa Memaksa. Seseorang apabila diajak dengan cara bijaksana,
lemah lembut, santun maka ia akan mudah menerima dengan baik, akan tetapi
apabila dengan cara kasar maka ia akan sulit menerima bahkan bisa jadi dia akan
menolak.
Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wassalam mengajak dan mengajarkan orang Badui
itu dengan lemah lembut dan kasih sayang, karena orang Badui itu tidak
diragukan lagi bahwa ia tidak tahu. Karena tidak mungkin kalau orang tahu
tentang keagungan masjid dan kewajiban mengagungkannya lalu kencing di depan
manusia di dalam masjid.
Islam juga memerintahkan kepada
pemeluknya untuk bermuamalah dengan sifat lemah lembut kepada sesama manusia,
dan bahkan terhadap binatang ternak sekalipun. Sebagaimana dalam hadits:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ
فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ
أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik
atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.
Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah
salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan
menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)
Bahkan terhadap orang kafir tertentu,
terkadang perlu untuk bersikap lemah lembut dalam rangka melembutkan hati
mereka untuk tertarik masuk ke dalam Islam. Telah diketahui bahwasanya Islam
adalah sebuah agama yang ringan dan mudah bagi pemeluknya. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ
وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama (Islam) itu
mudah. Setiap orang yang berusaha mempersulitnya pasti akan kalah. Maka
bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan berilah kabar gembira,
serta ambillah sebuah kesempatan pada pagi hari, petang serta sebagian dari
malam.” (HR. Al Bukhari)
Hendaklah setiap orang tatkala berinteraksi dengan lainnya, dia
menyikapinya sesuai dengan keadaannya. Orang badui ini bukanlah penduduk
Madinah. Jika penduduk Madinah yang
Betapa hati manusia itu, pada asalnya,
adalah cenderung kepada sikap yang lembut dan tidak kasar. Betapa indah dan
lembutnya cara pengajaran dari tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam
terhadap seorang yang belum mengerti. Dengan sikap hikmah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya melahirkan rasa simpati dan membuka
mata hati Arab badui tersebut dalam menerima nasehat. Berbeda halnya tatkala
perbuatannya tersebut disikapi dengan kemarahan, yang akhirnya melahirkan sikap
ketidaksukaan. Hal ini bisa dilihat dari perkataannya: “Ya Allah, rahmatilah
aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami
berdua.”
Selalu memberikan kemudahan kepada
orang lain dan tidak mau mempersulit urusan merupakan ciri khas akhlak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam sabdanya:
فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِيْنَ
“Kalian diperintah untuk memudahkan
dan bukan untuk mempersulit.” (HR.Al Bukhari)
Dan diantara pedoman dan kaidah syariat
yang harus dipegang teguh dalam menghadapi
kerasnya problem kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat
Ar-Rifq lemah lembut, At-Ta’anni tidak tergesa-gesa, dan Al Hilm santun. tidak
tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah.
Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan
sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik
dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Jamaah
Rahimakumullah:
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga dengan momentum datangnya bulan suci
ini kita dapat keberkahan dan sebagai pelebur dosa dan sebagai intropeksi diri bagi
kita semua.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ
شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا
وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ أَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي
زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ
الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَ
الْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،
فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ
وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ
اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ
وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك أَعْدَاء الدِّيْنَ
اَللّٰهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا
وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا
لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيْدِ الأَقْوَالِ وَصَالِحِ الأَعْمَالِ يَا
ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللّٰهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا
زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى
وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِّدْنَا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ
اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِيْ
فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا،
وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا
مِنْ كُلِّ شَرٍّ، يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ.
عِبَادَ اللهِ.. اُذْكُرُوْا اللهَ
يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.